Tuesday, January 16, 2018

Kisah Soichiro Honda

Pernakah Anda tahu, sang pendiri "kerajaan" Honda - Soichiro Honda – sebelum sukses diraihnya ia banyak mengalami kegagalan? Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. "Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda," tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever.

Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenrryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Daerah Chubu di antara Tokyo, Kyoto, dan Nara di Pulau Honshu yang awalnya penuh tanaman teh yang rapi, yang disela-selanya ditanami arbei yang lezat. Namun kini daerah kelahiran Honda sudah ditelan Hamamatsu yaitu kota terbesar di provinsi itu.

Ayahnya bernama Gihei Honda seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda, sedangkan ibunya bernama Mika, Soichiro anak sulung dari sembilan bersaudara, namun hanya empat yang berhasil mencapai umur dewasa. Yang lain meninggal semasa kanak-kanak akibat kekurangan obat dan juga akibat lingkungan yang kumuh.

Walaupun Gihei Honda miskin, namun ia suka pembaharuan. Ketika muncul pipa sigaret modal Barat, ia tidak ragu-ragu mengganti pipa cigaret tradisionalnya yang bengkok, tidak peduli para tetangganya menganggapnya aneh. Rupanya sifat itu dan juga keterampilannya menangani mesin menurun pada anak sulungnya.

Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang, membantu ayahnya di bengkel besi. Ia juga sangat terpesona melihat dan mendengar dengum mesin penggiling padi yang terletak beberapa kilometer dari desanya.

Di sekolah prestasinya rendah. Honda mengaku ulangan-ulangannya buruk. Ia tidak suka membaca, sedangkan mengarang dirasakannya sangat sulit. Tidak jarang ia bolos. “Sampai sekarang pun saya lebih efisien belajar dari TV daripada dari membaca. Kalau saya membaca, tidak ada yang menempel di otak,” katanya.

Ketika sudah kelas lima dan enam, bakat Soichiro tampak menonjol di bidang sains. Walaupun saat itu baru belasan tahun, namun dalam kelas-kelas sains di Jepang sudah dimunculkan benda-benda seperti baterai, timbangan, tabung reaksi dan mesin. Dengan mudah Soichiro menangkap keterangan guru dan dengan mudah ia menjawab pertanyaan guru.

Beberapa waktu sebelum itu, untuk pertama kalinya Soichiro melihat mobil. “Ketika itu saya lupa segalanya. Saya kejar mobil itu dan berhasil bergayut sebentar di belakangnya. Ketika mobil itu berhenti, pelumas menetes ke tanah. Saya cium tanah yang dibasahinya. Barangkali kelakuan saya persis seperti anjing. Lalu pelumas itu saya usapkan ke tangan dan lengan. Mungkin pada saat itulah di dalam hati saya timbul keinginan untuk kelak membuat mobil sendiri. Sejak saat itu kadang-kadang ada mobil datang ke kampung kami. Setiap kali mendengar deru mobil, saya berlari ke jalan, tidak peduli pada saat itu saya sedang menggendong adik.”

Soichiro hanya mengalami duduk di bangku sekolah selama sepuluh tahun. Sesudah lulus SD, anak nakal itu dikirim ke sekolah menengah pertama di Futumata yang tidak jauh dari kediamannya. Lulus dari sekolah menengah itu ia pulang ke rumah ayahnya. Gihei Honda sudah beralih dari pandai besi menjadi pengusaha bengkel sepeda. Gihei Honda memiliki majalah The World of Wheels yang dibaca Soichiro dengan penuh minat

Kecintaannya kepada mesin, mungkin 'warisan' dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.

Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang. Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan

pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. "Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya," ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali. Namun, Honda tidak patah semangat.

Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin.

Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, "sepeda motor" – cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan dunia, termasuk Indonesia.

Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru. Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin.

5 Resep keberhasilan Honda :

* Selalu berambisi dan berjiwa muda.
* Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
* Senangi pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja senyaman mungkin.
* Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
* Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama.

Trial and error Untuk meraih kesuksesan, Anda perlu melakukan trial and error. Hal ini merupakan salah satu tolok ukur untuk menggapai kesuksesan. Tinggal sejauh mana kita mau dan berani mencoba kembali kegagalan itu. Sebelum mencoba lagi, pikirkan masak-masak langkah yang akan ditempuh. Kalau pun terjadi kesalahan kembali, jangan ragu-ragu melakukan perbaikan dan terus mencoba sampai Anda berhasil mengatasinya. Kunci utama trial and error adalah kerja keras dan tetap semangat.

"Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", Soichiro Honda. (Kisah sukses dan inspiratif)

Si Buta dan Gajah

Di seberang Negeri Ghor ada sebuah kota. Semua penduduknya buta. Seorang raja beserta rombongannya lewat dekat kota itu; ia membawa pasukan dan berkemah di gurun. Raja itu mempunyai seekor gajah perkasa, yang digunakannya untuk berperang dan membuat rakyat kagum.

Penduduk kota itu sangat antusias ingin melihat gajah tersebut, dan beberapa dari mereka yang buta pun berlari untuk mendekatinya.

Karena sama sekali tak tahu rupa atau bentuk gajah, mereka hanya bisa meraba-raba, mencari kejelasan dengan menyentuh bagian tubuhnya. Masing-masing hanya menyentuh satu bagian, tetapi berpikir telah mengetahui sesuatu.

Sekembalinya ke kota, orang-orang yang hendak tahu segera mengerubungi mereka. Orang-orang itu tidak sadar bahwa mereka mencari tahu tentang kebenaran kepada sumber yang sebenamya telah tersesat.

Mereka bertanya tentang bentuk dan wujud gajah, dan menyimak semua yang disampaikan.

Orang yang tangannya menyentuh telinga gajah ditanya tentang bentuk gajah. Ia menjawab, "Gajah itu besar, terasa kasar, luas, dan lebar seperti permadani."

Orang yang meraba belalai gajah berkata, "Aku tahu yang lebih benar tentang bentuk gajah. Gajah itu mirip pipa lurus bergema, mengerikan dan suka merusak."

Terakhir, orang yang memegang kaki gajah berkata, "Gajah itu kuat dan tegak, seperti tiang."

Masing-masing hanya menyentuh satu bagian saja, dan keliru memahaminya. Tak ada akal yang tahu segalanya. Semua membayangkan sesuatu yang salah.

Ciptaan tidak mengetahui tentang keilahian. Tak ada jalan dalam pengetahuan ini yang bisa ditempuh dengan kemampuan biasa. (*)

Monday, January 15, 2018

Sifat-Sifat Rasulullah

Tibalah kita di depan rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kita ketuk pintu beliau untuk meminta izin. Marilah kita layangkan perhatian kepada sahabat yang melihat langsung Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia akan menceritakannya kepada kita seolah-olah kita melihat beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Agar kita dapat mengenal ciri fisik beliau yang mulia serta wajah beliau yang penuh senyum.

Al-Bara' bin 'Azib radhiyallah 'anhu menuturkan:
"Rasulullah adalah seorang yang sangat tampan wajahnya, sangat luhur budi pekertinya, beliau tidak terlalu jangkung dan tidak pula terlalu pendek." (HR. Al-Bukhari)

Masih dari Al Bara' radhiyallah 'anhu ia berkata:
"Rasulullah memiliki dada yang bidang dan lebar, beliau memiliki rambut yang terurai sampai ke cuping telinga (bagian bawah telinga), saya pernah menyaksikan beliau mengenakan pakaian berwarna merah, belum pernah saya melihat sesuatu yang lebih indah daripada itu." (HR. Al-Bukhari)

Abu Ishaq As-Sabi'i berkata: "Seseorang pernah bertanya kepada Al-Bara' bin 'Azib radhiyallah 'anhu: "Apakah wajah Rasulullah lancip seperti sebilah pedang?" ia menjawab: "Tidak, bahkan bulat bagaikan rembulan!" (HR. Al-Bukhari)

Anas bin Malik radhiyallah 'anhu mengungkapkan:
"Belum pernah tanganku menyentuh kain sutra yang lebih lembut daripada telapak tangan Rasulullah . Dan belum pernah aku mencium wewa-ngian yang lebih harum daripada aroma Rasulullah " (Muttafaq 'alaih)

Di antara sifat beliau adalah "pemalu", sampai-sampai Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallah 'anhu mengatakan:
"Rasulullah itu lebih pemalu daripada gadis dalam pingitan. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, niscaya kami dapat mengetahui ketidak sukaan beliau itu dari wajahnya." (HR. Al-Bukhari)

Demikianlah beberapa sifat dan budi pekerti Rasulullah . Sungguh, ayah dan ibuku sebagai tebusannya! Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyempurnakan jasmani dan budi pekerti beliau.

(Sehari di Kediaman Rasulullah – Syaikh ‘Abdul Malik al-Qosim)

Saturday, January 13, 2018

Rasulullah di Racun

Dalam sejarah memang diketahui bahwa rasulullah pernah diracun tepatnya waktu diperang khaibar oleh seorang wanita Yahudi namun rasulullah mengetahui bahwa beliau/dirinya  diracun dan akhirnya wanita yahudi itu mengakui perbuatanya dan masuk islam.

Kisahnya waktu itu adalah Tatkala Selesai Penakhlukan/Perang  Khaibar beliau dihadiahi kambing bakar oleh Zainab binti Al-Harits istri Sallam bin Misykam. Sebelum itu, Zainab bertanya kepada beliau, 'Apa yang paling engkau sukai dari kambing, wahai Rasulullah?' Rasulullah SAW menjawab, 'Lengan'. Zainab membubuhkan racun sebanyak mungkin ke lengan kambing, meracuni semua daging kambing, dan menghidangkan kepada Rasulullah. Beliau mengambil lengan kambing, mengunyah sedikit daripadanya, tidak menelannya, dan memuntahkannya. Sedang Bisy bin Al-Barra' bin Ma'rur yang ketika itu bersama beliau mengambil seperti beliau dan menelannya. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya tulang kambing tersebut memberitahuku bahwa ia beracun'. Beliau memanggil Zainab dan ia mengakui meracuni kambing bakar tersebut. Beliau bertanya kepada Zainab, 'Kenapa engkau berbuat seperti itu?'. Zainab menjawab, 'Engkau telah bertindak terhadap kaumku seperti engkau ketahui. Oleh karena itu, aku berkata, 'Jika ia (Muhammad) seorang raja maka aku bisa membunuhnya dan jika seorang nabi maka ia akan diberitahu'. Rasu-lullah memaafkan Zainab, sedang Bisyr meninggal dunia karena makanan yang dimakannya.(siroh Nabawiyah S.Almubarokfurry)

Maksud wanita yahudi itu meracuni rasulullah adalah untuk mengetahui apakah rasulullah seorang Nabi atau hanya seorang pemimpin biasa seperti halnya raja, jikalau ia seorang nabi pasti ia diberi tahu oleh Allah bahwa daging kambing itu telah di beri racun  namun jika ia hanya seorang raja pasti ia taktau kalau ada racunya dan akhirnya ia mati, Namun yang terjadi  ternyata rasulullah mendapat mukjizat dari Allah bahwa lengan kambing itu berbicara kepada rasulullah bahwa dia diberi racun "Sesungguhnya tulang kambing tersebut memberitahuku bahwa ia beracun" Itulah kalimat yang diucapkan oleh rasulullah, Maka wajar setelah itu wanita yahudi yang bernama Zainab binti Al-Harits lalu masuk islam. (Abu Yusuf Muhammad Zayyid; Penulis buku : Nabi wafat karena diracun)

Ali Terlambat Shalat Shubuh

Dini hari itu Ali bin Abi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah. Rasulullah tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa karena memang itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa.

Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin, dan jalanan masih pula diselimuti kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan kakinya menuju masjid. Dari kejauhan, lamat-lamat sudah terdengar suara Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru Kota Madinah.Namun belumlah begitu banyak melangkah, di jalan menuju masjid, di hadapannya ada sesosok orang. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat pelan sekali. Itu mungkin karena usianya yang telah lanjut. Tampak sekali ia sangat berhati-hati menyusuri jalan.

Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin tertinggal mengerjakan shalat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya.

Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun terpaksa berjalan di belakang kakek itu. Tapi apa daya, si kakek berjalan amat lamban, dan karena itu pulalah langkah Ali jadi melambat. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya. Ia khawatir kalau-kalau kakek Yahudi itu terjatuh atau kena celaka.

Setelah sekian lamanya berjalan, akhirnya waktu mendekati masjid, langit sudah mulai terang. Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid.

Ketika memasuki masjid, Ali menyangka shalat Subuh berjamaah sudah usai. Ia bergegas. Ali terkejut sekaligus gembira, Rasulullah dan para sahabat masih rukuk pada rakaat yang kedua. Berarti Ali masih punya kesempatan untuk memperoleh shalat berjamaah. Jika masih bisa menjalankan rukuk bersama, berarti ia masih mendapat satu rakaat shalat berjamaah.

Sesudah Rasulullah mengakhiri shalatnya dengan salam, Umar bin Khattab memberanikan diri untuk bertanya. “Wahai Rasulullah, mengapa hari ini shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan?”

Rasulullah balik bertanya, “Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda?”
“Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engkau rukuk dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama sekali. Kenapa?”

Rasulullah menjawab, “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku sedang rukuk dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun iktidal. Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga.”

Umar makin heran. “Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah?”

Nabi berkata, “Aku juga belum tahu. Jibril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan perkenaan Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun turun. Ia berkata kepada Nabi saw., “Muhammad, aku tadi diperintahkan oleh Allah untuk menekan punggungmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapatkan kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya secara bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi. Dari pegnhormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini.”

Mendengar penjelasan Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau sangat menyukai perbuatan Ali karena apa yang dilakukannya itu tentunya menunjukkan betapa tinggi penghormatan umat Islam kepada orang lain. Satu hal lagi, Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat atau meninggalkan amalan shalat berjamaah. Rasulullah menjelaskan kabar itu kepada para sahabat. (Kisah Ali bin Abi Thalib)

Sunday, July 10, 2016

8 Tahaf yang membentuk kepribadian manusia

Pada dasarnya memahami pola pikir, perasaan dan tingkah laku manusia cukup sulit karena mereka adalah makhluk yang penuh misteri. Banyak hal-hal yang belum terungkap sepenuhnya dalam diri manusia. Upaya-upaya untuk memahami pribadi manusia ini telah dilakukan oleh para ahli sejak lama bahkan hingga saat ini.

Selain itu, manusia kerap menggunakan “topeng” yang merupakan instrumen untuk para pemain peran, digunakan untuk menutupi muka, saat tampil di atas panggung. Istilah “topeng” ini digunakan untuk menggambarkan watak, atau perilaku seseorang yang terkadang menampilkan ekspresi berbeda antara perasaan dan wajahnya.

Psikolog kelahiran German dan berasal dari Amerika Serikat, Erik Erikson mengungkap tahapan pembentukan pribadi untuk mengungkap kehidupan manusia. Erikson mengembangkan teori dari gurunya Sigmund Freud dengan menganggap bahwa masa dewasa bukanlah sebuah hasil dari pengalaman masa lalu, tetapi merupakan proses kelanjutan dari tahapan selanjutnya.

Seperti dilansir dari Psychoshare.com, proses tahapan dan konsep dasar pembentukan kepribadian manusia di sekitar Anda atau mungkin lingkungan terdekat.

Tahap 1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)

Tahapan ini terjadi ketika manusia berusia 0 sampai dengan 18 bulan. Pada tingkatan pertama teori perkembangan psikososial, Erikson berpendapat bahwa saat manusia lahir sampai berusia 1 tahun merupakan tingkatan dasar dalam hidup.

Bayi sangat bergantung, perkembangan kepercayaan, kepercayaannya berkembang dan didasarkan pada pola asuh anak. Jika hal tahapan ini berhasil dilalui manusia akan merasa bahwa dirinya selamat dan aman dalam dunia. Sedangkan, pola asuh yang tidak konsisten dan emosional akan mendorong perasaan tidak percaya diri pada anak tersebut.

Tahap 2 Otonomi (Autonomy) VS malu dan ragu-ragu (shame and doubt)

Tahapan ini terjadi pada manusia ketika berusia 18 bulan sampai 3 tahun. Tahapan ini memberikan pengaruh masa awal anak-anak untuk fokus pada perkembangan besar dari pengendalian diri. Salah satu contohnya adalah Erikson mempercayai bahwa latihan menggunakan toilet dan aktivitas dasar lainnya merupakan bagian penting dalam proses ini.

Beberapa kejadian penting lainnya dalam hal pengendalian diri lebih atas pemilihan makanan, mainan yang disukai, dan pakaian. Jika anak berhasil melewati tahapan ini, ia akan merasa aman dan percaya diri. Sedangkan, anak yang tak berhasil melewatinya akan merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup serta ragu-ragu akan diri sendiri.

Tahap 3. Inisiatif (Initiative) vs rasa bersalah (Guilt)

Tahapan ini terjadi saat manusia menginjak usia 3 sampai 5 tahun. Selama masa usia pra sekolah, manusia mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan dunia melalui permainan langsung serta interaksi sosial.

Mereka akan lebih tertantang karena menghadapi dunia sosial yang lebih luas, maka dituntut inisiatif. Anak yang berhasil dalam tahap ini merasa mampu dan kompeten dalam memimpin orang lain. Selain itu, rasa tanggung jawab dan prakarsa dalam diri anak mulai meningkat. Namun, bagi mereka yang gagal mencapai tahap ini akan memunculkan perasaan bersalah, ragu-ragu, dan kurang insiatif.

Tahap 4. Industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri)

Tahapan ini terjadi pada usia anak 6 tahun sampai masa pubertas. Melalui interaksi sosial yang terjadi, sang anak mulai bisa mengembangkan perasaan bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka. Anak yang didukung dan melalui pengarahan orang tua serta guru akan membangun keinginan berkompetis yang juga berpengaruh pada kepercayaan dirinya.

Namun, bila sang anak tidak mendapat dukungan dari orang tua, guru, atau teman sebaya akan memunculkan perasaan ragu akan ketrampilan yang dimilikinya. Masa pertengahan dan akhir kanak-kanak akan membentuk dan mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Dalam tahap ini, guru mengambil peranan yang penting karena berkaitan dengan pengetahuan.

Tahap 5. Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas)

Tahapan ini terjadi pada masa remaja seseorang, yaitu usia 10 sampai 20 tahun. Selama masa remaja, manusia mengeksplorasi kemandirian dan membangun kepekaan dirinya. Anak akan diperhadapkan dengan penemuan pertanyaan tentang jati diri, bagaimana mereka nantinya, dan tujuan hidup. Anak akan diperhadapkan pada banyaknya peran baru serta status sebagai orang dewasa.

Pada tahap ini, realita yang diperhadapkan adalah soal pekerjaan dan romantisme, misalnya orang tua harus mengizinkan remaja menjelajahi banyak peran dan jalan berbeda dalam suatu peran khusus. Jika seorang remaja menjalani peran-peran tersebut, secara positif dan sehat, maka identitas diri, eksplorasi personal, kepekaan diri, perasaan mandiri, dan pengendalian diri akan dicapai.

Namun, jika identitas remaja tersebut ditolak oleh orang tua padahal telah menjalaninya, mereka akan cenderung mengalami kebingungan. Namun bagi mereka yang menerima dukungan memadai maka eksplorasi personal, kepekaan diri, perasaan mandiri dan control dirinya akan muncul dalam tahap ini.

Tahap 6. Intimacy vs isolation (keintiman vs keterkucilan)

Tahapan ini terjadi pada manusia selama memasuki masa dewasa awal 20 sampai 30 tahun. Erikson percaya bahwa tahapan ini penting karena masa bagi seseorang untuk membangun hubungan yang dekat serta siap berkomitmen dengan orang lain. Mereka yang berhasil di tahap ini akan mengembangkan hubungan dengan komitmen serta aman.

Erikson percaya bahwa identitas personal yang kuat penting untuk mengembangkan hubungan yang intim. Penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang memiliki sedikit kepekaan diri cenderung memiliki kekurangan komitmen dalam menjalin suatu hubungan dan lebih sering terisolasi secara emosional, kesendirian dan depresi.

Tahap 7. Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan)

Tahapan ini terjadi selama masa pertengahan dewasa 40 sampai 50 tahun. Selama masa ini berlangsung, mereka akan melanjutkan untuk membangun hidupnya dengan berfokus pada karir dan keluarga. Bagi seseorang yang berhasil di tahapan ini akan merasa bahwa mereka memiliki kontribusi pada dunia dengan partisipasinya di rumah serta komunitas. Namun, bagi mereka yang gagal melalui tahap ini, akan merasa tidak produktif dan tidak terlibat di dunia ini.

Tahap 8. Integrity vs depair (integritas vs putus asa)

Tahapan ini terjadi selama masa akhir dewasa, yaitu usia diatas 60 tahun. Selama fase ini, manusia cenderung melakukan perenungan dan introspeksi terhadap masa lalu. Mereka yang tidak berhasil pada fase ini cenderung merasa bahwa hidupnya percuma dan akan mengalami banyak penyesalan. Selain itu, individu akan merasakan kepahitan hidup serta putus asa. Namun, bagi yang berhasil, mereka akan menemukan cerminan keberhasilan serta kegagalan yang dihadapi dengan bijaksana sampai menghadapi kematian.